Tahukah kalian bahwa jumlah petani di Indonesia semakin sedikit?

Saat ini, jumlah petani Indonesia terus menurun. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam kurun waktu tahun 2003 sampai tahun 2013, Indonesia kehilangan 5,1 juta petani dan hanya menyisakan 26 juta petani. Diperkirakan, apabila penurunan ini terus berlanjut, maka dalam 50 tahun tidak akan ada lagi petani di Indonesia.

Bahkan, menurut data yang dilansir oleh World Bank, pada tahun 2019 dari seluruh tenaga kerja di Indonesia, hanya 28,6% di antaranya yang bekerja di bidang agrikultur. Angka ini jauh menurun dari kisaran 65% pada tahun 1976.

Padahal, agrikultur berperan besar bagi perekonomian Indonesia. Sektor agrikultur menyumbang 13% dari total GDP Indonesia dan merupakan penyumbang terbesar ketiga setelah sektor manufaktur dan perdagangan. (BPS)

Salah satu faktor yang membuat penurunan jumlah petani ini adalah karakteristik sektor pertanian yang memiliki tuntutan tinggi dan sangat berat.

Riset yang dilakukan oleh SMERU Research Institute pada tahun 2016 menunjukkan bahwa sebagian besar pemuda di Indonesia melihat pekerjaan di bidang agrikultur sebagai pekerjaan dengan penghasilan rendah dan melibatkan banyak pekerjaan fisik.

Survei Tenaga Kerja Nasional yang dilakukan pada tahun 2019 mempertegas hal ini. Hanya terdapat 23% dari 14,2 juta penduduk Indonesia berusia 15-24 tahun yang memilih bekerja di bidang agrikultur, kehutanan, dan perikanan.

Di sisi lain, lahan yang tersedia untuk digarap pun juga terus berkurang. Sejak tahun 2013 hingga tahun 2019, lahan agrikultur di Indonesia telah berkurang menjadi 7,46 juta ha dari yang semula 7,75 juta ha. (BPS, Kementerian Agraria dan Tata Ruang)

Menurut riset yang dilakukan SMERU Research Institute masalah seperti kenaikan biaya produksi, perubahan cuaca dan serangan hama juga telah mendorong petani untuk berpindah profesi, dengan pemilik lahan mengubah lahannya untuk penggunaan lain atau menjualnya.

Jadi, bagaimana ya cara kita agar dapat mendukung keberlangsungan para petani?

1. Masa depan pertanian tergantung pada investasi

Investasi di bidang pertanian harus datang dari individu, sektor swasta hingga pemerintah dan LSM.

“Peningkatan investasi di bidang pertanian untuk memodernisasi sistem dan pasar pangan serta membuatnya lebih efisien adalah kunci untuk memutus lingkaran ini,” mengutip pernyataan Asian Development Bank (ADB) dalam laporannya pada tahun 2019.

Investasi di pertanian tidak hanya akan membantu meningkatkan produksi pangan negara, tetapi juga membantu rumah tangga untuk terlibat dalam sektor yang lebih produktif dan memperoleh pendapatan yang lebih baik.

2. Teknologi untuk mendobrak hambatan, membentuk kembali pertanian

Salah satu hal yang dapat mendorong kemajuan pertanian adalah teknologi. Seperti yang dilakukan oleh TaniHub Group yang hadir untuk menghubungkan petani dengan konsumen secara lebih dekat. Di dalam ekosistem TaniHub Group terdapat TaniHub yang memungkinkan konsumen untuk membeli produk segar langsung dari petani dan TaniFund yang memberikan akses kepada lender untuk memberikan dukungannya kepada petani melalui pendanaan di setiap proyek yang tersedia.

Siapkah kamu untuk mendukung keberlangsungan pertanian dan para petani di Indonesia?

Segera bergabung menjadi lender di TaniFund dan lakukan #PendanaanBerdampakSosial!

www.tanifund.com