Oleh Ramarsha Septarizki, Key Account TaniFund

Bagi warga kota besar, kelaparan relatif jarang ditemui di kehidupan sehari-hari, namun masih banyak orang di area tertinggal yang sudah mengalami kelaparan secara berkala. Isu kelaparan merupakan permasalahan yang sering dihadapi berbagai negara berkembang di berbagai belahan dunia.

Mengenai Kelaparan

Kelaparan didefinisikan sebagai kondisi hasil dari kurangnya konsumsi pangan kronik. Dalam jangka panjang, kelaparan kronis berakibat buruk pada derajat kesehatan masyarakat dan menyebabkan tingginya pengeluaran masyarakat untuk kesehatan.

Tidak semua orang mempunyai kemudahan untuk memperoleh pangan yang dibutuhkan, dan hal ini mengarah pada kelaparan dan kekurangan gizi dalam skala besar di dunia. Sebagian penduduk dunia sekarang ini kekurangan pangan secara kronis dan tidak mampu mendapatkan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi minimum mereka. Jutaan anak–anak berusia di bawah lima tahun (balita) menderita kekurangan gizi kronis atau akut pada saat musim kekurangan pangan. Pada musim kelaparan dan kerusuhan sosial, angka ini terus meningkat.

Dikutip dari situs lokadata.id, Global Hunger Index (GHI) mencatat bahwa terdapat 690 juta orang atau sekitar 1 dari setiap 10 orang di dunia menderita kurang gizi. Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan dari Maximo Torero, kepala ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB, yang memaparkan bahwa kebanyakan orang kekurangan gizi tinggal di Asia, meskipun jumlah pertumbuhan tercepatnya berada di Afrika (dilansir dari situs bisnis.com). Menurut data PBB, angka yang terakhir terlihat pada tahun 2004 menunjukan bahwa yang terkena dampak kelaparan di seluruh dunia mencapai 840 juta. Jika tren ini terus berlanjut, bayangkan seberapa banyak angka ini pada tahun 2030.

Global Hunger Index (GHI) merupakan sebuah indeks yang mengukur dan melacak kelaparan di tingkat global, regional, dan nasional, melalui 4 indikator yang terdiri dari:

  1. Kurang gizi yang dilihat dari asupan kalori tak cukup
  2. Kurang gizi akut yang biasanya ditandai dengan anak-anak dengan berat badannya kurang dari normal
  3. Stunting atau sebutan untuk anak-anak dengan tinggi badan kurang dari normal 
  4. Angka kematian anak di bawah umur 5 tahun

Dari 4 indikator tersebut, terdapat 5 kategori yang dipakai GHI, yaitu:

  1. Tingkat kelaparan kategori “rendah”, dengan skor kurang dari 9,9
  2. Tingkat kategori “moderat” dengan skor 10-19,9
  3. Tingkat “serius” dengan skor 20-34,9,
  4. tingkat kategori “mengkhawatirkan” dengan skor 35-49,9
  5. Tingkat kategori terbawah yaitu “sangat mengkhawatirkan” dengan skor lebih dari 50

Nilai dari skor GHI menggambarkan usaha dari negara-negara dalam mengatasi bencana kelaparan. Sejak 2012, PBB menyatakan bahwa dari 107 negara yang di-ranking, tak ada lagi negara yang termasuk dalam kategori “sangat mengkhawatirkan”. Sementara itu dalam laporan GHI 2020, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia lolos dari level “serius” dan masuk kategori moderat, dimana Indonesia meraih skor 19,1; menempati urutan ke 70 dari 107 negara yang diukur oleh PBB dengan skor GHI.

Kelaparan dan Sustainable Development Goals (SDGs) no. 2

Setelah membahas tentang kelaparan, apakah kalian pernah dengar mengenai Sustainable Development Goals (SDGs)? Mengacu pada definisi SDGs dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs) adalah agenda tahun 2030 yang merupakan kesepakatan pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan. 

SDGs berprinsip universal, terintegrasi dan inklusif, untuk meyakinkan bahwa tidak ada satupun yang tertinggal atau no one left behind. SDGs memiliki 17 goals atau tujuan. Salah satu SDGs yang kaitannya sangat erat dengan agrikultur adalah kelaparan, yang tercermin dalam tujuan ke 2 dari SDGs. Objektif dari tujuan nomor 2 adalah untuk mengakhiri kelaparan, menjaga kecukupan nutrisi, dan memastikan akses pangan bagi semua orang. Tujuan bersama yang dicanangkan negara-negara anggota PBB ini (termasuk Indonesia), diharapkan akan terwujud pada tahun 2030.

 

Sebagai negara agraris, Indonesia merupakan negara yang melakukan pemenuhan pangannya melalui kegiatan agrikultur. Oleh karena itu, peran petani sangatlah penting dalam ketahanan pangan di Indonesia. Jika tidak ada petani yang melakukan kegiatan bercocok tanam, produksi makanan pun terhambat.

Nyatanya, jumlah petani di Indonesia pun semakin lama semakin berkurang, Dikutip dari portal berita liputan6.com, saat ini keadaan pertanian Indonesia mengalami penurunan dalam segi pelaku petaninya. Hal ini dikatakan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi. Beliau menambahkan, jika keadaan tidak membaik, maka 10 tahun yang akan datang Indonesia akan mengalami krisis petani, karena pada saat ini petani-petani di Indonesia umurnya sudah mendekati umur kurang produktif. Beliau turut menyampaikan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengatakan bahwa jumlah petani milenial yang umurnya 19-39 tahun itu menurun terus, contohnya seperti tahun 2017 ke tahun 2018 yang mengalami penurunan kurang lebih 415.000 petani milenial.

 

Jika petani berkurang, maka pemenuhan pangan di Indonesia akan lebih sulit sehingga rintangan yang Indonesia alami untuk memenuhi tujuan SDGs yang kedua semakin tinggi. 

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mendukung para petani di Indonesia? 

Ada beberapa contoh aksi yang dapat kita lakukan sebagai wujud kita untuk mendukung SDGs nomor 2 ini dan mengurangi tingkat kelaparan di Indonesia, yaitu:

  1. Membeli produk pangan seperti sayuran dan buah-buahan lokal sehingga semakin terbuka pasar untuk para petani lokal
  2. Menghapus stigma buruk mengenai pekerjaan sebagai petani
  3. Memulai kegiatan bercocok tanam (menjadi petani) untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sendiri terlebih dahulu
  4. Membantu petani dari segi akses permodalan, seperti yang kamu bisa lakukan disini.

Bersama kita dapat mengurangi tingkat kelaparan di Indonesia sehingga dapat menciptakan pembangunan yang berkelanjutan, terutama pada sektor pangan dan agrikultur di Indonesia.

Referensi

Aninda, Nirmala., 2020, “Krisis Kelaparan Dunia Memburuk Akibat Pandemi”, https://lifestyle.bisnis.com/read/20200714/106/1265962/krisis-kelaparan-dunia-memburuk-akibat-pandemi. Nirmala Aninda

Lenhart, N.M & M.H. Read. 1989. Demographic Profile and Nutrient Intake Addessment of 21. 29 (2): 14·23 Individual using Emergency Food Program. Journal of The American Dietetic Association, 89 (9) 1989. 

Ngongi, A.N. 1999. The Practical Challenges of Overcoming Hunger. Dalam United Nations System’s Forum on Nutrition Switzerland: ACC-SCN No. 18, July 1999. 

http://sdgs.bappenas.go.id/tujuan-2/#:~:text=Kelaparan%20didefinisikan%20sebagai%20kondisi%20hasil,tingginya%20pengeluaran%20masyarakat%20untuk%20kesehatan.