Panen perdana budidaya padi dilakukan pada hari Minggu, 7 Maret 2021 yang dibudidayakan bersama Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) di Sukabumi, Jawa Barat.

Acara panen perdana ini dihadiri oleh Komisaris TaniFund dan Presiden TaniHub Group Pamitra Wineka, Direktur TaniFund Edison Tobing, Ketua Umum Intani Guntur Subagja, Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Yasid Taufik, dan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Pangan (Persero) Budiono.

Panen perdana ini dilakukan untuk komoditas padi yang telah ditanam di lahan seluas 1.000 hektar di Desa Ujung Genteng, Sukabumi, pada 17 Oktober 2020 lalu.

Melibatkan 1.100 petani yang tersebar di 11 kelompok tani (poktan),
proyek budidaya padi ini berjalan dalam ekosistem korporasi petani yang dibangun Intani. TaniFund bertindak sebagai penyedia pendanaan bagi proyek budidaya, sedangkan Mitra Bumdes Nusantara dan Pupuk Indonesia Pangan sebagai off-taker hasil panennya.

TaniFund memberikan dukungan melalui penyaluran permodalan dengan total nilai sebesar Rp18 miliar kepada 11 poktan yang terlibat. Kesebelas poktan tersebut dinaungi oleh gabungan kelompok tani (gapoktan) BRISMA.

Komisaris TaniFund Pamitra Wineka mengatakan, keterlibatan TaniFund dalam proyek budidaya padi bersama Intani merupakan bukti komitmen perusahaan untuk berperan aktif dalam peningkatan kesejahteraan petani melalui kolaborasi dengan pelaku agribisnis lainnya.

“Kami merasa senang dapat berpartisipasi dalam proyek ini karena melibatkan ribuan petani yang tentunya membutuhkan dukungan pendanaan untuk dapat mengembangkan usaha mereka. Kami berharap model bisnis seperti ini dapat direplikasi di banyak tempat, karena pemberdayaan petani dan penguatan ketahanan pangan membutuhkan peran serta aktif dari berbagai pemangku kepentingan,” ujar Pamitra, yang juga menjabat sebagai Presiden TaniHub Group.

Ketua Umum Intani Guntur Subagja juga mengatakan, proyek ini merupakan sebuah silaturahmi dan kolaborasi yang dapat menjadi titik tolak upaya pemberdayaan petani dan pertanian Indonesia ke depannya.

“Intani adalah sebuah organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan membangun kemandirian pertanian Indonesia. Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa tanpa disubsidi pun, industri pertanian jika dikolaborasikan dengan baik dapat menguntungkan petani, pelaku usaha, industri, ataupun sektor-sektor lainnya, serta memberikan social impact yang besar,” kata Guntur.

Sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat sekitar yang mayoritas bertani, ekosistem Intani juga melibatkan 3.000 santri melalui Pesantren Pemberdayaan Al-Muhtadin. Pesantren yang berada di bawah naungan gapoktan BRISMA tersebut bertindak sebagai “local hub ecosystem” yang melatih para santri untuk menjadi local leader, santri tani, dan “santripreneur”.

Menurut Edison Tobing selaku Direktur TaniFund, keterlibatan pesantren dalam ekosistem Intani dapat menjadi salah satu solusi pemberdayaan komunitas petani, karena para santri dapat mendorong para petani muda untuk berpartisipasi dalam upaya memperkuat ketahanan pangan melalui ekonomi kerakyatan di masyarakat lokal.

Didirikan pada 2017, TaniFund telah berhasil menyalurkan pendanaan sebesar Rp199,63 miliar (per 7 Maret 2021) melalui ratusan proyek dalam bidang pangan dan agrikultur. Upaya yang telah dilakukan TaniFund pun berdampak terhadap peningkatan produksi 2.700 petani binaannya sebesar 20%. Tidak hanya itu, semangat TaniFund dalam meningkatkan inklusi keuangan terlihat pada peningkatan pendapatan petani binaannya secara umum sebesar 25% dengan kepemilikan rekening bank mencapai angka 100%.

Kolaborasi TaniFund dengan para pelaku agribisnis dalam ekosistem Intani ini tentu membawa dampak sosial terhadap peningkatan kesejahteraan petani di daerah Ujung Genteng, Jawa Barat.

Kamu juga ingin berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan petani di Indonesia? Daftar jadi lender dan mulai lakukan #PendanaanBerdampakSosial di www.tanifund.com