oleh: Fathonah Widya, Business Development Support TaniFund 

Hampir satu dekade terakhir cryptocurrency menjadi pembicaraan dan menjadi tren di dunia. Cryptocurrency atau biasa disebut juga dengan aset kripto merupakan investasi yang menawarkan keuntungan cukup tinggi sehingga menarik masyarakat luas untuk investasi pada cryptocurrency, khususnya generasi milenial di negara Indonesia. Popularitas cryptocurrency dibuktikan dengan harga Bitcoin yang naik sebesar 450% sepanjang tahun 2020, Ethereum naik lebih dari 1000% dalam satu tahun terakhir, dan Yearn Finance (YFI) yang mencapai rekor naik sampai Rp 650 juta dalam waktu 3 bulan saja. Ditambah berita publik figur terkenal seperti Elon Musk, pemilik Tesla, yang memiliki aset kripto di Doge sehingga membuat valuasi cryptocurrency ini melambung tinggi, jauh dibandingkan kenaikan saham pada umumnya.

Di negara Indonesia sendiri, Kementerian Perdagangan melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) resmi memberikan izin cryptocurrency sebagai perdagangan mata uang digital atau melalui bursa berjangka yang dapat diperjualbelikan dan untuk investasi meskipun dari pihak Bank Indonesia masih melarangnya sebagai uang atau alat pembayaran resmi. 

Namun, sebelum tergiur dengan keuntungan yang cukup tinggi, alangkah baiknya masyarakat dapat memahami resiko dari investasi cryptocurrency. Satgas Waspada Indonesia (SWI) juga tidak hentinya mengingatkan masyarakat, khususnya para investor untuk berhati-hati terlebih dahulu dalam investasi di cryptocurrency dan kepada pelaku usaha di bidang cryptocurrency untuk terus mematuhi ketentuan dan mengelola resiko investasi agar tidak merugikan konsumen. 

Pahami kelemahan cryptocurrency sebelum dijadikan investasi, dan bandingkan dengan pendanaan di Peer-to-Peer Lending (P2P Lending):

  1. Resiko yang sangat tinggi. Kenaikan nilai koin-koin bisa saja mencapai ratusan persen tanpa batas. Tetapi yang perlu dipikirkan kembali bahwa resiko dari penurunan nilainya pun juga tidak terbatas. Apalagi investasi cryptocurrency tidak menjadi aset, tetapi diperjualbelikan seperti market derivatif. Sehingga, kondisi ini berpotensi memunculkan peluang penipuan, penggelapan, dan transaksi bodong. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa investor bisa saja untung hari ini dan rugi di esok harinya akibat transaksi aset kripto. Tentu saja hal ini berbeda dengan pendanaan di P2P Lending. Ini dikarenakan sistem P2P Lending tidak mengenal fluktuasi dari valuasi aset yang didapatkan dan para pendana bisa langsung menghitung serta mengetahui berapa nilai yang akan diperoleh, sehingga kerugian bisa diminimalisir.
  2. Tidak ada analisis fundamental. Cryptocurrency bukan berbentuk mata uang seperti Rupiah ataupun Dolar AS. Cryptocurrency tidak diakui sebagai alat pembayaran yang sah dan tidak berhubungan dengan dasar fundamental suatu negara seperti keadaan ekonomi, suku bunga acuan, maupun kondisi makro ekonomi lainnya. Adapun pendanaan di P2P Lending bisa dilihat dari penjabaran prospektus yang tersedia pada platform pendanaan. Dibandingkan P2P Lending, cryptocurrency masih sangat sulit untuk dianalisa dan diprediksi valuasi atas naik atau turunnya aset kripto karena transaksi masih berbasis pada spekulasi yang tinggi.
  3. Tidak memiliki badan otoritas. Cryptocurrency dalam praktiknya memiliki teknologi blockchain, yakni sistem untuk merekam informasi yang membuatnya sangat tidak mungkin untuk diubah, dicurangi atau di-hack, sehingga tidak perlu suatu badan otoritas yang membuat aturan & mengawasi jalannya transaksi investasi. Walaupun demikian, ini berarti tidak ada perlindungan investor maupun layanan konsumen yang dapat menampung keluhan apabila terjadi hal yang tidak diinginkan dalam investasi cryptocurrency. 

Hal ini tentu saja berbeda dengan P2P Lending yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dengan diawasi oleh badan atau otoritas tertentu, apabila perusahaan P2P lending menyimpang atau melanggar ketentuan, OJK bisa memberikan peringatan kepada perusahaan tersebut dan bahkan bisa sampai terkena sanksi dari OJK. 

Setelah mengetahui risiko atau kelemahan dari cryptocurrency, sebagai investor yang pintar perlu dipertimbangkan kembali dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi di aset digital tersebut. Jangan mudah tergiur dengan iming-iming keuntungan besar dan tertarik karena selebritas atau publik figur dunia, namun harus melihat risiko dan faktanya. 

Sebagai alternatif lain untuk mengembangkan dana yang kamu miliki, kamu juga bisa memilih platform pendanaan yang lebih baik dengan melihat risiko yang terukur seperti TaniFund. TaniFund adalah P2P lending yang merupakan platform pendanaan untuk sektor pertanian dan UMKM Indonesia. TaniFund juga sudah resmi terdaftar dan diawasi oleh OJK, serta memiliki sertifikasi ISO 27001 mengenai Manajemen Keamanan Investasi.

TaniFund memiliki risiko yang terukur karena memiliki tim lapangan yang terdiri dari para ahli agronomi yang akan melakukan pendampingan selama budidaya sehingga dapat meminimalisir risiko proyek gagal. Selain itu, proyek-proyek di TaniFund juga diasuransikan, sehingga jika terjadi kegagalan maka ada asuransi sebesar 80% dari modal pokok. Pendanaan yang kamu lakukan di TaniFund juga memberikan dampak sosial yang besar bagi pertanian & sektor UMKM Indonesia. Jika kamu belum pernah mendaftar, coba daftar jadi lender secara online dengan mudah di www.tanifund.com dan mulai lakukan #PendanaanBerdampakSosial. Mari kembangkan dana kamu dan bantu bangkitkan sektor agrikultur Indonesia bersama TaniFund!

Referensi:
https://youtu.be/gKpdWKJL0Uw
https://www.idxchannel.com/amp/economics/mau-trading-crypto-selain-tak-punya-aset-fisik-ini-risikonya
https://www.bareksa.com/berita/belajar-investasi/2021-04-22/3-kelemahan-trading-kripto-dan-bedanya-dengan-investasi-reksadana/amp