Ketimpangan adalah musuh masyarakat global. Bahkan menjadi salah satu sorotan dalam Forum Ekonomi Dunia 2018 di Davos, Swiss. Banyak inisiatif masyarakat yang telah dilakukan untuk mengatasi ketimpangan yang disebabkan oleh “kekosongan sosial”.

Inisiatif itu dinamakan usaha sosial (social enterprise). Umumnya, berupa model bisnis yang diprakarsai oleh individu dengan tujuan sosial.

Banyak usaha sosial yang menggambarkan diri sebagai “kendaraan pembawa perubahan sosial”, dengan tujuan meningkatkan kualitas komunitas, lingkungan dan generasi mendatang.

Meskipun hakikat setiap usaha sosial memiliki nilai sama namun bentuknya berbeda-beda. Perbedaannya terlihat dari model bisnis, inti usaha, sektor industri hingga masalah sosial yang menjadi fokusnya.

 

Definisi usaha sosial

Walaupun sulit diketahui seperti apa bentuk usaha sosial dan lokasinya, diperkirakan usaha sosial telah dimulai sejak akhir tahun 80-an. Namun, hingga sekarang belum ada konsensus dari definisi usaha sosial.

Dalam pengertian sederhana, usaha sosial adalah hibrida antara bisnis dengan tujuan profit dan inisiatif yang tidak bertujuan profit.

Sisi bisnis dari sebuah usaha sosial bersifat komplementer ketimbang sisi sosial, lingkungan dan dampak ke generasi selanjutnya. Keuntungan finansial cenderung dianggap sebagai cara untuk mempertahankan kelanjutan usaha sosial.

Kata kunci kewirausahaan sosial yang sering disebut di banyak literatur, salah satunya adalah “agen perubahan”, “nilai sosial”, “inovasi berkelanjutan” dan “keberlanjutan finansial”.

 

Contoh penerapan usaha sosial

Di Australia, terdapat usaha sosial yang mempromosikan pembuatan bir rumahan yang berkelanjutan (sustainable). Usahanya dibiayai melalui crowdfunding dan keuntungannya didonasikan untuk preservasi Great Barrier Reef di Australia.

Penyedia jasa pemandu wisata di Praha, Ceko, memberdayakan tuna wisma sebagai pemandu tur. Mereka diajak untuk memperlihatkan Praha kepada turis, diselingi dengan cerita kehidupan para tuna wisma sehari-hari.

Sedangkan di Inggris, terdapat badan amal yang menjalankan usaha sosial, dengan memberdayakan masyarakat yang memiliki isu kesehatan mental atau keterbatasan lain.

 

Karakteristik pelaku usaha Sosial

Pelaku usaha sosial adalah mereka yang menelurkan ide untuk mengatasi masalah sosial/lingkungan tertentu, sekaligus memenuhi potensi bisnis yang tersedia.

Karakteristik usaha sosial adalah adanya asas partisipatif. Semua pihak di dalam bisnis dianggap sejajar sebagai agen perubahan. Mulai dari pemilik bisnis, penyumbang dana, karyawan, sukarelawan hingga konsumen atau penerima manfaat, semuanya berkontribusi dalam memperbaiki kondisi sosial.

Keterlibatan semua pihak menciptakan rasa kekeluargaan di tiap individu. Dengan begitu, setiap orang punya kesempatan sama menjadi pahlawan, dan berkontribusi membuat perubahan di dunia. Apalagi para penerima manfaat dari usaha sosial, tidak dicitrakan sebagai “tangan di bawah”, yang hanya menunggu bantuan dari kalangan “tangan di atas”.

Para petani penerima dana dari crowdfunding, ibu rumah tangga peserta pelatihan kerajinan tangan atau mantan narapidana yang berusaha berbaur di masyarakat, adalah para penerima manfaat yang berperan penting dalam proses perbaikan berkelanjutan.

Para penyumbang dana pun secara tidak langsung menerima manfaat dari usaha sosial. Selain menerima pengembalian finansial, mereka pun memperoleh kepuasan pribadi karena membawa perubahan pada isu sosial yang dipilih.

Pemilik usaha sosial juga mendapatkan kepuasan dari terciptanya lapangan kerja dan keberlanjutan usaha rintisannya.

 

Masa depan usaha sosial

Walaupun jumlah usaha sosial semakin meningkat, timbul rasa was-was dari golongan skeptis. Bagaimana masa depan konsep usaha sosial? Apakah ini hanyalah tren sementara?

Tidak ada cara mudah dan blak-blakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Evaluasi kinerja atas sebuah usaha sosial dapat membantu memprediksi keberlangsungannya. Selain itu, evaluasi juga bisa dipakai untuk memastikan sebuah usaha sosial memenuhi janji misi sosial yang diembannya.

Namun, hingga saat ini belum ada formulasi umum untuk mengevaluasi usaha sosial pada keberagaman prakteknya.

Berdasarkan laporan evaluasi kinerja usaha sosial yang ada, hampir seluruhnya dibuat spesifik bergantung konteks. Misalnya, disesuaikan pada fokus masalah sosial atau lingkungannya, periode usaha dan tujuan dari evaluasinya; apakah untuk mengukur akuntabilitas, dampak, pengembangan program, bahkan tujuan politis. Selain itu, pendekatan yang digunakan pada evaluasinya pun dapat berbeda. Misalnya, pada desain evaluasi, metodologi dan landasan teorinya.

Sebagai industri yang masih “hijau”, belum dapat dipastikan bagaimana perkembangan usaha sosial di masa depan. Bukan hanya disebabkan karena kodrat usaha sosial yang dinamis, tetapi juga bagaimana respon lingkungan sosial, ekonomi dan politik pada keberadaan usaha sosial itu sendiri.

Bagaimanapun juga, hakikat usaha sosial adalah tanggap dengan ketidakpastian. Mereka dilengkapi dengan fleksibilitas untuk beradaptasi dengan lingkungannya.

Tren yang berkembang bisa dilihat sebagai ketertarikan masyarakat pada hal baru. Dapat juga diartikan sebagai bertambahnya kepercayaan publik pada konsep dan pesan usaha sosial.

 

Bagaimana menurut Anda?